Diagnosis dan Terapi Penyakit Epilepsi

By | September 27, 2017

Diagnosis dan Terapi Penyakit Epilepsi

Untuk menegakkan diagnosis dan terapi epilepsi yang akan tidak sembarangan. Diperlukan pemeriksaan yang lengkap, mulai dari wawancara terhadap keluarga atau saksi mata terjadinya kejang, sampai pemeriksaan penunjang. “Wawancara langsung terhadap penyandang epilepsi sulit dilakukan, karena pasien tidak mampu mengingat apa yang terjadi saat kejang. Perlu juga dipastikan apakah yang terjadi memang benar kejang bukannya pingsan atau jatuh.

Diagnosis dan Terapi Penyakit Epilepsi

Diagnosis dan terapi yang tepat harus dilakukan sedini mungkin dan penentuan obat anti epilepsi yang tepat akan digunakan untuk mempengaruhi kesembuhan penyandang epilepsi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa EEG (elektroensefalografi) dapat memberikan informasi tambahan dalam menegakkan diagnosis. EEG akan memberikan gambaran rekaman aktifitas listrik diotak. Sel sel syaraf dilapisan luar otak akan mengeluarkan gelombang listrik dengan voltase yang sangat kecil (MV). Kemudian gelombang listrik ini dialirkan ke mesin EEG untuk diamflikasi, sehingga terekam ensefalogram dengan ukuran yang cukup untuk menentukan jenis gelombang otak yang terjadi.

Tes darah dan tes urine dapat dilakukan bergantung pada kondisi dan situasi pasien, pemeriksaan lain yang dapat mmebantu antara lain MRI atau CT scan juga dapat dilakukan untuk membantu diagnosis dan terapi epilepsi.

Pengelolaan Epilepsi

Obat antiepilepsi merupakan terapi utama dalam pengelolaan epilepsi. Obat diberikan atas dasar pertimbangan kemungkinan berulangnya serangan epilepsi dan efek samping pemberian obat. Obat ini baru diberikan jika diagnosis epilepsi sudah ditegakan. Jika kejang yang terjadi bukan epilepsi. Pengobatan ditunjukan untuk mengatasi penyebab. Misalnya jika kejang terjadi akibat demam tinggi maka diberikan kompres air hangat dan obat demam.

Dalam pengelolaan epilepsi, pasien beserta keluarganya perlu diberikan informasi selengkap lengkapnya mengenai epilepsi, tujuan pengobatan dan efek samping yang mungkin timbul dari pengobatan. Terapi dimulai denga satu macam obat, dengan dan sebisa mungkin menghindari pengobatan dengan lebih dari satu macam obat untuk menghindari efek samping.

Terapi Penyakit Epilepsi Pada Lansia Dan Wanita

Pada lansia, sering kali sudah timbul berbagai masalah kesehatan dan memerlukan kesehatan dan memerlukan beberapa macam obat untuk mengatasinya. Obat anti epilepsi dapat bereaksi dan berinteraksi dengan banyak obat, sehingga sebelum minum OAE sebaiknya ia menjalani pemeriksaan fungsi hati dan ginjal terlebih dahulu. Terapi standar biasanya cukup efektif, namun dapat juga menggunakan OAE jenis baru untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Ini karena efek sampingnya lebih ringan dibanding dengan OAE jenis lama.

Pada wanita penyandang epilepsi, diagnosis dan terapi epilepsi perlu dilakukan untuk membantu dokter menentukan pilihan obat juga perlu diperhatikan. Ini karena obat anti epilepsi tertentu dapat menurunkan efektvitas obat kontrasepsi. Selain itu, ternyata naik turunnya hormon juga mempengaruhi epilepsi, sedangkan progesteron bersifat menurunkan epilepsi. Dengan demikian, mungkin diperlukan obat tertentu seperti penghambat ovulasi.

Selain diagnosis dan terapi epilepsi dengan menggunakan obat kimia, sebuah penelitian untuk disertai S3 tentang pengobatan epilepsi yang bukan kimia. Pengobatan dengan cara yang alami tersebut yaitu dengan dipencet ibu jari tangannya. Terapi ini digunakan untuk menguirangi penyebab kejang atau timbulnya bangkitan (kambuh kejang epilepsi), saat terjadi kejang atau sebagai terapi pencegahan.

Diagnosis dan terapi epilepsi dengan cara yang tradisional dengan memencet ibu jari tangan ini dari sebuah mitos yang telah dubuktikan dan ternyata, syaraf syaraf yang terdapat di dalam ibu jari tangan ini padat dan memiliki prosentase yang luas diotak. Jadi, bisa turut membnatu menghambat terjadinya gangguan listrik yang tinggi di otak penderita penyakit epilepsi. Saat terapi dengan cara ibu jari yang dipencet ini dimulai, mungkin akan menimbulkan rasa nyeri pada penderita. Rasa nyeri tersebut akan dialirakan ke otak sehingga terjadi hambatan listrik.

Kebangkitan epilepsi yang terjadi disebabkan karena terjadi gangguan listrik yang tinggi pada otak. Listrik yang tinggi itu bisa karena disebabkan oleh penyakit yang dari otak, bisa karena penyakit yang diluar otak. Itu semua bisa menyebabkan listrik yang tinggi yang dialami pada otak penderita penyakit epilepsi ini. Diagnosis dan terapi epilepsi denga memencet ibu jari ini bisa dilakukan yang berguna untuk membantu mengatasi dan mengantisipasi terjadinya bangkitan.

Cara Terapi Ibu Jari Yang Dapat Dilakukan Adalah :

>> Pencet ibu jari penderita penyakit epilepsi kurang lebih selama 30 detik, lalu 30 detik lepas
>> Kemudian pencet lagi pada tempat yang sama dan waktu lama yang sama juga, lalu lepas lagi sampai penderita merasakan rasa nyeri pada ibu jarinya

Penekanan yang diberikan pada ibu ajri boleh keras tapi sampai jangan nyeri berlebihan. Karena kalau nyeri yang dirasakan penderita berlebihan akan menimbulkan stres, kalau stres terus, justru memicu munculnya bangkitan. Hal ini dapat pasien lakukan ketika sedang menonton televisi, atau duduk didalam kendaraan. Memencet jempol ini juga bisa dilakukan saat terjadi kejang oleh keraban si pasien atau orang orang yang disekitar penderita epilepsi yang berfungsi untuk menolong penderita agar kejang yang dialami lebih cepat berhenti.

Diagnosis dan terapi epilepsi lainnya yang dapat anda lakukan adalah dengan memperhatikan kondisi penderita epilepsi dan permasalahan yang dialaminya, mengusahakan agar penyandang penyakit epilepsi menjadi percaya dengan anda bahwa tidak ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya dan atau benda disekitar yang akan melukai dirinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *