Kejang Dan Epilepsi Itu Ternyata Berbeda, Apa Bedanya ?

By | September 11, 2018

Kejang Dan Epilepsi Itu Ternyata Berbeda, Apa Bedanya ?

Mendengar kata kejang dan epilepsi, pasti membuat anda berpikir bahwa dua hal ini sangat berkaitan. Anda tentu tidak salah, namun jangan samakan kejang dengan epilepsi. Jika anda melihat seseorang kejang, belum tentu dia menderita epilepsi. Namun epilepsi sendiri biasanya ditandai dengan kejang. Hampir 1% populasi dunia berisiko mengalami epilepsi, menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas California di San Fransisco.

Kejang Dan Epilepsi Itu Ternyata Berbeda, Apa Bedanya ?

Apa bedanya Kejang Dan Epilepsi ?

Epilepsi atau yang dikenal masyarakan sebagai ayan, adalah kondisi yang ditandai dengan kejang yang berulang secara spontan. Tidak semua kejang adalah epilepsi, namun biasanya setiap epilepsi selalu ditandai dengan kejang. Pada umumnya, epilepsi ditandai dengan kejang tanpa faktor pencetus atau alobat penyakit otak akut.

Sedangkan kejang terjadi sebagai akibat kelainan letupan listrik pada otak sehingga terjadi gangguan pada gerakan, sensasi, kesadaran, atau prilaku ganjil tanpa disadari penderita. Otak manusia terdiri dari triliunan sel saraf yang saling berhubungan dengan letupan listrik yang diperantarai zat kimia yang disebut neurotransmitter, letupan listrik ini tidak hanya terjadi diotak, tapi juga otot sehingga kita menyadari akan suatu gerakan, jika terjadi gangguan pada neurotransmitter itu terjadilah kejang.

Kejang bukan hanya gerakan menyentak seluruh tubuh yang biasa dikenal masyarakat. Kejang juga dapat berupa menghilangnya kesadaran atau bengong sesaat, mata mendelik sekejap, atau tanda lain yang tidak disadari penderita bahkan orang disekitarnya. Jika ada seorang anak yang demam tinggi lalu kejang, hal itu belum bisa di diagnosis sebagai epilepsi. Jadi kejang dan epilepsi tidaklah selalu sama bahkan penyebabnya berbeda.

Anda Harus Tahu Tentang Epilepsi Atau Ayan

Diagnosis epilepsi biasanya berdasarkan pada pemeriksaan menyeluruh melalui wawancara, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Umumnya, wawancara dilakukan terhadap orang disekitar pasien seperti keluarga, teman, atau yang lainnya, karena penderita epilepsi sering tidak dapat menginat kejang yang mereka alami.

Jika dokter memerlukan pemeriksaan penunjang, pasien akan diperiksakan rekam otak atau electroencephalogram (EEG), pemeriksaan radiologi berupa computed tomography atau yang dikenal CT-Scan, dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Selain itu, dokter mungkin akan memeriksakan laboratorium untuk menentukan jenis dan obat yang nantinya akan diberikan pada pasien.

Penderita epilepsi yang rutin kontrol dokter dan meminum obat, umumnya aka dapat beraktivitas dengan baik tanpa terganggu dengan kejang. Ada beberapa hal yang dapat memicu kejang pada penderita epilepsi, seperti kurang tidur, stres, diet, siklus hormonal, konsumsi alkohol dan narkoba, serta faktor obat. Faktor obat misalnya pasien mencoba untuk meminum obat lain selain obat yang diresepkan dokter.

Ini Dia Cara Menolong Orang Yang Kejang

Pertama, jangan panik. Pindahkan barang barang berbahay yang ada di dekat pasien, misal gelas kaca, pisau, atau barang berbahaya lainnya. Saat seseorang kejang, jangan mencoba memindahkan posisinya kecuali dengan posisi tersebut pasien dalam bahaya. Berikutnya, longgarkan kerah kemeja atau ikat pinggang agar memudahkan pernapasan. Jangan memasukkan apapun ke mulut pasien, karena hal itu justru dapat melukai pasien. Amati berapa lama orang tersebut kejang dan segera bawa ketempat pelayanan kesehatan terdekat.

Sekarang anda tahu, perbedaan kejang dan epilepsi. Meskipun tidak salah mengaitkan kejang dan epilepsi, namun anda harus tahu perbedaan keduanya jika dipisahkan dari kondisi medis yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *