Pengaruh Epilepsi Pada Masa Kehamilan

By | April 10, 2017

Pengaruh Epilepsi Pada Masa Kehamilan

Untuk wanita penyandang epilepsi yang ingin hamil dan melahirkan, tentunya perlu ekstra hati-hati dan waspada dalam menjaga kandungannya. Konsumsi obat epilepsi yang aman untuk ibu dan janin, karena kebanyakan obat yang ditawarkan berbahan kimia yang bukan tidak mungkin itu akan membuat anda mengalami gangguan pada kehamilan. Oleh sebab itu, pastikan dengan benar bahwa obat epilepsi yang anda konsumsi benar-benar aman.

Pengaruh Epilepsi Pada Masa Kehamilan

Pengaruh epilepsi pada masa kehamilan

Berdasarkan statistik Amerika Serikat, sekitar 0.5% kehamilan dijumpai pada wanita epilepsi. Angka kematian neonatus (bayi baru lahir) pada pasien epilepsi yang hamil adalah tiga kali dibandingkan populasi normal. Hal ini dikarenakan risiko pada wanita epilepsi yang hamil lebih besar dibanding wanita normal yang hamil. (Obat ayan anak dan dewasa)

Pengaruh kehamilan terhadap epilepsi bervariasi. Sekita 1/4 kasus frekuensi bangkitan akan meningkat terutama pada trimester terakhir. Seperempatnya lagi menurun dan separuhnya tidak mengalami perubahan selama kehamilan. Hal ini terjadi dikarenakan, pada wanita hamil terjadi perubahan fisiologis dalam tubuhnya, salah satunya yaitu fungsi ginjalnya meningkat yang ditandai dengan peningkatan creatinine clearance sekitar 50% sehingga akan menurunkan kadar obat anti epilepsi (OAE) dalam sirkulasi darah yang akhirnya meningkatkan kebutuhan OAE. Bahkan, hormon etsergen bersifat epitolegonik dan terus meningkat selama kehamilan dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga. hal inilah yang menyebabkan frekuensi bangkitan pada epilepsi menjadi meningkat terutama pada trimester terakhir.

Adapun pengaruh epilepsi pada masa kehamilan yaitu dapat meningkatkan risiko outcome kehamilan yang merugikan. Bangkitan pada trimester pertama diketahui meningkatkan risiko kehamilan yang merugikan. Bangkitan pada trimester pertama diketahui meningkatkan risiko malformais kongenital pada keturunan 12.3% berbanding 4% dengan anak yang terpapar dengan bangkitan maternal pada waktu yang lain. Bangkitan umum tonik klonik meningkatkan risiko hipoksia dan asidosos dan juga cedera karena trauma benda tumpul. Penelitian dari kanada ini menemukan bahwa bangkitan maternal selama kehamilan mampu meningkatkan risiko keterlambatan perkembangan. Meski jarang terjadi, status epiletikus dapat menyebabkan tingkat mortalitas yang tinggi ibu dan anak. Didalam sebuah penelitian terhadap 29 kasus yang dilaporkan, 9 ibu dan 14 perempuan yang memiliki 3 kali bangkitan tonik klonik umum selama kehamilannya dapat menyebabkan perdarahan intraserebral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *